Senin, 24 Januari 2011

FUNGI / JAMUR


FUNGI / JAMUR
Sesungguhnya, apakah yang dimaksud dengan jamur? Termasuk hewan atau tumbuhankah jamur itu? Seperti apakah bentuk jamur itu? Dalam pembahasan ini, Anda akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan tersebut.
Adapun fungi merupakan nama lain dari jamur. Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga atau katak). Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara : dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh buah. Ilmu yang mempelajari fungi disebut mikologi.
Posisi fungi dalam taksonomi
Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
fungi adalah heterotrof yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan ( absorption ). Dalam cara nutrisi ini, molekul-molekul mencerna makanan diluar tubuhnya dengan cara mensekresikan enzim-enzim hidrolitik yang sangat ampuh kedalam makanan tersebut.Enzim-enzim itu akan menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana yang dapat diserap dan digunakan oleh fungi.
Cara mendapatkan nutrient yang absorptif ini menjadikan fungi terspesialisasi sebagai pengurai (saprobe), parasit, atau simbion-simbion mutualistrik. Fungi saprobik meyerap zat-zat makanan dari bahan organic yang sudah mati, seperti pohon yang sudah tumbang, bangkai hewan,atau buangan organism hidup. Di dalam proses saprobik ini, fungi menguraikan bahan organic tersebut. Fungi parasitik menyerap zat-zat makanan dari sel-sel inang yang masih hidup. Beberapa jenis fungi parasitik, misalnya seperti spesies tertentu yang menginfeksi paru-paru manusia, bersifat patogenik. Fungi mutualistik juga menyerap zat makanan dari organisme inang, akan tetapi fungi tersebut membalaanya dengan fungi yang menguntungkan bagi pasangannya dalam hal tertentu, misalnya membantu suatu tumbuhan didalam proses pengambilan mineral dari tanah.
Fungi menempati lingkungan yang sangat beraneka ragam dan berasosiasi secara simbiotik dengan banyak organisme. Meskipun paling sering ditemukan di habitat darat, beberapa fungi hidup di lingkungan akuatik, dimana fungi tersebut berasosiasi dengan organisme laut dan air tawar serta dengan bangkainya. Lichen, perpaduan simbiotik antara fungi dan alga, banyak terdapat di mana-mana dan ditemukan di beberapa habitat yang sangat tidak bersahabat dibumi ini: gurun yang dingin dan kering di antartika, tundra alpin dan artik. Fungi simbiotik lainnya hidup didalam jaringan tumbuhan yang sehat, dan spesies lain membentuk mutualisme-mutualisme pengkonsumsi-selulosa denga serangga, semut dan rayap.
A.       Ciri-ciri Umum
Jamur dimasukkan dalam kelompok organisme eukaroita karena sel-selnya sudah memiliki membran sel inti. Dinding sel jamur terbuat dari bahan kitin, yaitu polimer karbohidrat yang juga terdapat pada eksoskeleton serangga, laba-laba dan artropoda lainnya. Itu berfungsi memberi bentuk dan menyokong sel-sel jamur. Hal tersebut sangat berbeda dengan sel tumbuhan yang terbuat dari bahan selulosa. Sebagian besar jamur merupakan organisme bersel banyak (multi seluler), contohnya jamur merah, (volvariella volcaceae), tetapi ada juga yang merupakan organisme bersel tunggal (uniseluler) contohnya yeast atau ragi (saccharomyces). Tubuh jamur yang bersel banyak tersusun atas benang-benang yang disebut hifa. Hifa pada jamur, yaitu hifa bersekat (bersepta) dan hifa tidak bersekat. Pada hifa yang bersekat, di tiap sekat terdapat satu inti sel, sedangkan pada hifa yang tidak bersekat, inti sel tersebar didalam sitoplasma (senositik). Sekumpulan hifa akan membentuk anyaman yang disebut miselium.
Bentuk jamur mirip dengan tumbuhan, tetapi jamur tidak memiliki daun dan akar sejati. Selain itu, jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis seperti tumbuhan. Dengan demikian, jamur merupakan organisme heterotrof dan memperoleh zat-zat makanan (nutrisi) dengan cara menyerap serat-serat sederhana dari lingkungan substratnya. Namun sebelum itu, makanan yang masih berupa senyawa kompleks akan diuraikan terlebih dahulu diluar sel jamur dengan cara menghasilkan enzim-enzim hidrolitik ekstraseluler. Jamur ada yang hidup sebagai perasit, ada yang hidup sebagai saprofit, dan ada pula yang hidup simbiosis mutualisme dengan organisme lain. Sebagai parasit, jamur mengambil bahan makanan langsung dari inangnya. Jamur parasit mamiliki Haustorium (jamak haustoria), yaitu hifa yang khusus untuk menyerap makanan dari inangnya. Sebagai saprofit, jamur mengambil bahan makanan dari sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati. Pada jamur yang bersimbiosis dengan organisme lain, jamur menyerap makanan dari inangnya, sedangkan inangnya memperoleh mineral dari tanah melalui bantuan jamur. Umumnya, jamur dapat berkembang biak atau berproduksi secara seksual dan aseksual. Meskipun begitu perkembangbiakan secara seksual lebih berperan karena lebih sering dilakukan. Karena itulah, dalam siklus hidup jamur fase haploid sangat dominan. Sedangkan fase diploidnya sangat singkat.
B.                 Struktur tubuh
Struktur dasar jamur adalah hifa. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium (Lihat Gambar 2.1). Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Ketebalan hifa bervariasi antara 0,5 mm – 100 mm. Hifa terdiri atas sel-sel sejenis. Sel-sel tersebut satu dan lainnya dipisahkan oleh dinding sel atau sekat yang dinamakan Septum (jamak: septa) dan dinamakan hifa bersepta. Dinding sel jamur berbeda dengan dinding sel tumbuhan. Dinding sel jamur bukan terdiri atas selulosa, melainkan tersusun oleh zat Kitin. Sel-sel hifa bersepta ada yang berinti satu (uni nukleat), berinti dua (binukleat atau dikariotik), atau berinti banyak atau senositik (coenocytic). Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu.





Gbr.2.1 Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Hifa adalah benang-benang penyusun tubuh jamur. Ada tiga jenis hifa, yaitu stolon (hifa yang menjalar dipermukaan substrat), rizoid (hifa yang menembus kedalam substrat dan berfungsi sebagi akar), dan sporangiosfor (hifa yang menjulang ke atas dan membentuk sporangium). Sporangium adalah struktur atau organ pembentuk spora, disebut juga kotak spora. Didalam sporangium dihasilkan sporangiospora atau sering disebut spora saja. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, ada pula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik. Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.






C.                 Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
1.      Parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
2.      Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok.
3.      Saprofit merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang
mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit
mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahan-bahan organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken. Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
D.             Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Gbr.2.2 Siklus hidup umum fungi
Spora haploid dihasilkan secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut :
a.       Konidiospora , merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium , sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium .
b.      Sporangiospora , merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus. Ada dua macam sporangiospora yang tidak bergerak (nonmotil) disebut aplanospora dan sporangiospora yang dapat bergerak karena mempunyai flagela yang disebut zoospora .
c.       Oidium / artrospora , yaitu spora bersel tunggal yang terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa.
d.      Klamidospora , merupakan spora bersel satu, berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap keadaan yang buruk. Spora ini terbentuk dari sel-sel hifa yang somatik.
e.       Blatospora merupakan tunas/kuncup pada sel-sel khamir.












Gbr Macam-macam spora aseksual pada jamur
Perkembangbiakan jamur secara seksual dilakukan dengan peleburan inti sel/nucleus dari dua sel induknya. Reproduksi secara seksual ini lebih jarang dilakukan dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan secara aseksual. Perkembangbiakan ini terjadi apabila berada dalam keadaan tertentu. Seperti halnya spora aseksual jamur, jenis spora seksual jamur pun bermacam-macam, yaitu sebagai berikut:
E.                 Klasifikasi
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.
Jamur dibagi menjadi 6 divisi yaitu:
1.      Myxomycotina (Jamur lendir)
Myxomycotyna meliputi organisme yang tidak mengandung klorofil, yang filogenetik tergolong ke dalam organisme yang sangat sederhana. Dalam keadaan vegetatif tubuhnya berupa massa protoplasma telanjang yang bergerak sebagai amoeba yang disebut Plasmodium dengan cara-cara hidup sebagai saprofit atau seperti hewan. Plasmodium terjadi karena satu perkawinan (peristiwa seksual), dan kemudian akan membentuk suatu sporangium yang berdinding. Sporangium menghasilkan spora yang tidak memperlihatkan perbedaan jenis kelaminnya.







Gbr 2.3 Daur hidup jamur lendir
Spora myxomycotina berkecambah dalam air atau diatas suatu substrat basah menjadi satu atau beberapa sel kembar yang di namakan miksoflagelata.
Miksoflagelata ini pada bagian muka mempunyai satu inti atau satu bulu cambuk, biasanya dua dan dan heterokon. Pada bagian belakang terdapat vakuola berdenyut, tetapi kromatofora tidak ada. Hidupnya sebagai saprofit, dapat mengambil zat makanan yang bersifat cair maupun padat. Setelah beberapa waktu, bulu cambuknya lenyap dan miksoflagelata ini berubah menjadi miksoameba. Miksoflagellata dan miksoameba dapat membiak vegetative dengan pembelahan. Pembiakan generativpun terjadi. Dua miksoameba atau dua miksoflagellata dapat mengadakan perkawinan menjadi amebozigot, dan dalam amebozigot ini kedua intinya akhirnyapun akan bersatu. Badan yang diploid ini tidak lalu membentuk dinding, melainkan tetap telanjang dan bersifat ameboid, dan dengan sesamanya dapat bersatu menjadi plasmodium yang besar dan mempunyai banyak inti. Inti dapat bertambah banyak  karena adanya mitosis yang berulang-ulang.
Plasmodium ini tidak pernah membentuk sekat-sekat, jadi hanya merupakan kumpulan protoplas yang menjadi satu. Organism ini dapat dipiara di atas agar-agar dan makannya dapat berupa bakteri, miselium jamur, potongan agar-agar, bahkan dapat juga mengambil miksoameba haploid sebagai makannya. Makanan ini dicernakan dalam vakuolanya. Dapat pula organism ini mengeluarkan enzim yang melarutkan substratnya dan mengambil makannya dalam bentuk larutan. Dari yang bersifat saprofit dapat dibuat biakan murni. Yang hidup sebagai parasit hanya hidup dengan tambahan makan yang berupa makhluk hidup. Zat makanan bukan tupung, tetapi glikogen myxomycotina suka hidup di tanah-tanah hutan, diatas daun yang telah runtuh, dalam kayu yang lapuk, dan dengan perubahan tubuhnya yang merayap kemana-mana. Bagian muka terdiri atas plasma yang lebih pekat, kebelakang membentuk benang-benang. Organisme Ini bergerak ketempat makan dibawa pengaruh gaya-gaya kemotaksis, hidrotaksis dan fototaksis negative. Plasmodium ini dapat mencapai ukuran garis tengah 0-30 cm, misalnya pada fuligo varians = Aethalium septicum.
Pada palasmodium terbentuk sporangium yang disebut tubuh buah. Untuk keperluan ini plasmodium lalu mempunyai sifat yang berlawanan dengan biasanya. Mereka lalu meninggalkan tempat yang basah merayap menuju cahaya, dan dengan menurunkan kadar airnya kemudian berubah menjadi beberapa tubuh buah, yang masing-masing diselubungi oleh selaput kaku karena mengandung kapur, dan dinamakan peridium. Didalamnya terdapat banyak spora kecil yang mempunyai membrane. Membran (dinding) spora itu, tidak seperti jamur umumnya, terdiri atas kitin, tetapi tediri atas substansi menyerupai putih telur yang dinamakan keratin, dan disamping itu juga terdapat selulosa. Spora terjadi karena pembelahan reduksi, dan oleh karena itu bersifat haploid. Miksoflagellata dan miksoameba yang tidak mengadakan kopulasi juga bersifat haploid. Badan buah dan plasmodium bersifat diploid.
Pada beberapa marga didalam badan buahnya dibentuk kapilitium yang terdiri dari bulu-bulu kecil yang bebas atau tersusun seperti jala atau terdiri atas serabut-serabut yang muncul dari plasma yang terdapat diantara spora. Jika sporangium telah masak, teridium lalu pecah dan spora akan terhembus keluar dari dalam jala kapilitium tadi. Pada beberapa jenis myxomicotina kapilitium memperlihatkan gerakan-gerakan hidroskopik.
Bentuk dan susunan, sifat, dan warna sporangium merupakan dasar untuk membedakan myxomicotina dalam takson lebih kecil. pada fuligo varians beberpa sporangium merupakan satu badan buah yang berwarna pirang dan dapat mempunyai diameter sampai beberapa sentimeter.
Pada dictyostelium mucoroides miksoameba yang terkumpul tidak menjadi zigot, tetapi hanya merupakan suatu pseudoplasmodium dengan tubuh buah, yang tiap sporanya berasal dari suatu miksoameba.
Myxomycotyna, yang secara filogenetik amat rendah tingkatnya itu, jika di tinjau dari sudut sel kembar dan miksoameba menunjukkan hubungan kekerabatan dengan Flagellatae yang tidak berwarna, atau sangat boleh jadi lebih dekat dengan Rhizopoda dari dunia hewan. pertimbangan-pertimbangan itu yang di jadikan alas an untuk menyatakan bahwa Myxomycotyna dalah suatu mahkluk peliharaan ynag terletak antara hewan dan tumbuhan.
Seperti Volvocales dan Euglenales (Flagellatae) yang oleh bahli-ahli zoology dianggap pula sebagai hewan, demikian pula halnya dengan Mycomycotyna. Dalam dunia hewan kelompok mahkluk hidup ini dikenal pula dengan nama Mycetozoa.
Selain posisi yang tidak pasti itu, klasifikasi Mycomycotyna sendiri belum mantap. Contoh-contoh yang disebut diatas masing-masing mewakili kelompok Plasmodiumnya merupakan suatu agregat saja dari sejumlah sel-sel telanjang (Dtyostelium mucoroidas).
Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana. Mempunyai 2 fase hidup, yaitu:
-             Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amoeba, disebut plasmodium.
-             Fase tubuh buah Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata.
-             Contoh spesies : Dictyostelium discoideum

    Gbr 2.4  Dictyostelium discoideum
2.      Oomycotina
a.       Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak inti.
b.      Reproduksi:
-       Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia.
-       Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru. Contoh spesies: Saprolegnia sp. yang hidup saprofit pada bangkai ikan,  serangga darat maupun serangga air dan Phytophora infestans yaitu penyebab penyakit busuk pada kentang.
-       Contoh spesies: Saproglenia lihat gambar 2.3.





Gbr 2.5 Saproglenia


3.      Zygomycotina
Ciri jamur dari kelompok ini adalah hifanya tidak memiliki sekat (septa) sehingga disebut hifa senositik. Kelompok jamur ini diberi nama Zygomycotina karena selama masa reproduksi seksual membentuk spora seksual khusus, yang disebut zigospora. Contoh jamur yang termasuk divisi Zygomycota adalah Rhizopus Oligorpus, yaitu jamur yang digunakkan membuat tempe. Jika Anda mengamati jamur R.Oligorpus dengan menggunakkan mikroskop, anda dapat melihat struktur tubuhnya dengan jelas. Lihat gambar 2.4.
Hifa adalah benang-benang penyusun tubuh jamur. Sebagai anggota Zygomycota, R. Oligarpus dapat berkembangbiak secara aseksual atau secara seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk spora didalam sporangium yang terletak diujung-diujung hifa. Sporangium ditunjang oleh sporangiofor.
   Gbr 2.6. Struktur Morfologi dari Rhizopus oligorpus
Sporangium stonifer yang telah tua dan matang biasanya berwarna hitam. Jika telah matang, sporangium akan akan pecah dan menghasilkan banyak spora.Selanjutnya,spora-spora aknan keluar dan menyebar dengan bantuan angin. Jika spora itu jatuh pada tempat yang cocok,ia akan tumbuh membentuk hifa baru. Jamur Zygomycotina disebut juga “Jamur kojungsi” dinamakan demikian kerana perkembangbiakan secara seksual  jamur ini dilakukan dengan cara kojungsi.


















Gbr 2.7 Siklus hidup Rhizopus
Proses kojungasi terjadi diujung-ujung hifa yang berlainan jenis yaitu hifa (+) atau “hifa jantan” atau hifa (-)atau hifa betina” Hifa-hifa tersebut bersifat haploid (n). Kedua hifa tersebut akan mengalami pembengkakan pemanjangan pada ujungnya. Hifa yang membengkak disebut gametangium (jamak;gametangia), yaitu stuktur atau organ pembentuk gamet. Selanjutnya, kedua gametangium bersatu dan membentuk zigospora yang yang bersifat diploid (2n). Zigospora adalah spora berdinding tebal dan sedang fase istirahat. Karena berdinding tebal, Zigospora tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Zigospora dapat dorman selama beberapa bulan dan akan berkcambah serta tumbuh menjadi hifa-hifa baru jika kondisi lingkungan membaik. Pada saat pertumbuhan hifa, terjadi peristiwa meiosis sehingga hifa bersifat haploid. Selanjutnya ,hifa-hifa tersebut membentuk sporangifor. Diujung sporangiofor terdapat sporangium yang berisi spora. Setelah dihasilkan spora ,akan terjadi proses reproduksi Aseksual. Dari penjelasan diatas, diketahui bahwa pada siklus hidup R. stolonifer, fase haploid lebih panjang daripada fase diploid.
Anggota Zygomycotina umumnya hidup sebagai saprofit, baik ditanah ataupun disisa-sisa oganisme, misalnya di kayu lapuk. Beberapa jenis Zygomycotina merupakan perasit pada tumbuhan dan serangga. Selain R. Oligarpus, contoh lain dari Zygomycota adalah R.oryzae dan mucor . Jamur R.oryzae digunkkan dalam fermentasi sake,yaitu minuman khas jepang, sedangkan mucor adalah jamur yang sering tumbuh diroti. Beberapa jenis mucor merupakan jamur pathogen.








Gbr. 2.8. R. Oligorpus dalam tempe
Adapun untuk ciri-ciri umumnya sebagai berikut:
a.       Tubuh multiseluler.
b.      Habitat umumnya di darat sebagai saprofit.
c.       Hifa tidak bersekat.
d.      Reproduksi:
-       Vegetatif : dengan spora.
-       Generatif : dengan konyugasi hifa (+) dengan hlifa (-) akan menghasilkan  zigospora yang nantinya akan tumbuh menjadi individu baru. Contoh spesies: Mucor mucedo biasa hidup di kotoran ternak dan roti dan Rhizopus oligosporus atau jamur tempe.
4.      Ascomycotina
Ascomycota merupakan divisi terbesar dalam kingdom fungi. Jumlah anggota mencapai dari 60.000 spesies. Ciri utama dari divisi ascomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut akospora. Akospora terbentuk kedalam kaksus, yaitu suatu tubuh buah khusus yang bentuknya menyerupai mangkuk atau botol. Tidak seperti Zygomycota, Ascomycota memiliki hifa bersekat. Anggota Ascomycota cukup beragam, ada yang bersel satu,  misalnya yeast atau ragi (S.cerevase); ada pula yang bersel banyak, contohnya Penicillium dan ada pula yang membentuk tubuh buah, seperti Netrica dan peziza. Pada umumnya anggota Ascomycotina adalah jamur bersel banyak. Seperti halnya Zygomycota, Ascomycota bersel banyak, reproduksi aseksual dilakukan dengan cara membentuk konidiospora atau sering disebut konidia (tunggal;konidium) saja. Konidia terbentuk pada ujung hifa khusus yang tumbuh tegak, yang disebut konidofor. Warna dari konidia bermacam-macam, ada yang hitam, merah, biru, dan hijau, bergantung pada jenis jamurnya. Konidia yang telah masak, apabila jatuh pada tempat yang cocok akan tumbuh menjadi hifa baru. Sementara itu, reproduksi aseksual pada Ascomycota bersel satu dilakukan dengan cara membentuk tunas (budding). Tunas yang telah masak akan terlepas dari sel induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual pada Ascomycota terjadi dengan cara membentuk askospora. Akospora dalah spora seksual yang terbentuk di dalam aksus. Aksus terdapat didalam badan buah yang disebut askokarp.






Gbr.2.9 Konidiospora
Bagaimana proses terbentuknya askospora? Pada Ascomycota ada dua jenis hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Hifa (+) membentuk alat kelamin jantan (anteredium) dan hifa(-) membentuk alat kelamin betina (askogonium). Kedua jenis alat kelamin tersebut bertemu dan terjadi plasmogami (penyatuan sitoplasma) tanpa disertai penyatuan inti. .Jadi,dalam peristiwa tersebut akan terbentuk sel dengan dua inti Askogonium yang telah meiliki dua inti tersebut akan menghasilkan hifa-hifa askogonium yang dikariotika (berinti dua). Hifa dikariotika itu bercabang-cabang membentuk tubuh buah yang disebut askokarp. Semetara itu, ujung hifa dikariotika akan membentuk sel khusus yang akan menjadi askus. Didalam aksus akan terjadi perleburan dua inti (diploid/2n). Selanjutnya, inti askus membelah dua kali. Pembelahan pertama terjadi secara meiosis dan menghasilkan empat sel. Pembelahan kedua terjadi secara mitosis sehingga akhirnya terbentuk delapan akspora didalam aksus tersebut. Tubuh buah (askokarp) yang terbentuk memiliki bentuk bermacam-macam dan merupakan dasar klasifikasi dari ascomycota.bentuk-bentuk badan buah tersebut,antara lain kleistotesium,peritesium,apotesium,dan aksus telanjang.
a.       Kleistotesium : berbentuk bulat tertutup,merupakan ciri dari kelas Plectomycetes.
b.      Peritesium : berbentuk botol ,merupakan cirri dari kelas Pyrenomycetes.
c.       Apotesium : berbentuk cawan,merupakan ciri dari kelas Discomycetes.
d.      Akus telanjang : tidak membentuk badan buah,merupakan cirri dari kelas Protoascomycetes.









Gbr 2.10 Siklus hidup Ascomycota
Salah satu contohnya adalah Sacharomyces cerevisae sehari-hari dikenal sebagai ragi. Berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol. mampu mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan  proses fermentasi. 






Gbr 2.11 Sacharomyces cerevisae
Berikut ciri-ciri umum dari Ascomycota:
a.       Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Ascomycotina, multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak.
b.      Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis  dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak).
c.       Reproduksi:
-       Vegetatif : pada jamur uniseluler membentuk tunas-tunas, pada yang multiseluler membentuk spora dari konidia.
-       Generatif: Membentuk askus yang menghasilkan askospora.
d.      Contoh spesies lainnya:
-       Neurospora sitophila: jamur oncom.
-       Peniciliium noJaJum dan Penicillium chrysogenum penghasil antibiotika penisilin.
-       Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti berguna untuk mengharumkan keju.
-       Aspergillus oryzae: untuk membuat sake dan kecap.
-       Aspergillus wentii: untuk membuat kecap
-        Aspergillus flavus:  menghasilkan racun aflatoksin Þ hidup pada biji-bijian. flatoksin salah satu penyebab kanker hati.
-       Claviceps purpurea:  hidup sebagai parasit pada bakal buah Gramineae.
5.      Basidiomycotina
Ciri utama dari jamur yang termasuk dalam divisi Basidiomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut basidiospora. Basidiospora terbentuk pada bagian yang disebut basidium. Divisi ini memiliki angota lebuh dari 25.000 species. Basidiomyta merupakan kelompok jamur yang perkembanganya paling tinggi diantara kelompok jamur lainnya. Ciri lainnya adalah mampu membentuk tubuh buah yang makrokopis sehingga sangat mudah dilihat. Jamur-jamur anggota Basidiomycota dapat dijumpai pada tanah, pohon yang lapuk atau jerami di musim hujan. Bentuk dan warnanya juga bermacam-macam.
Beberapa jenis sudah dibudayakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan. Contohnya Volvariella volvacea atau jamur merang, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan.

      Gbr 2.12 Volvariella volvacea (Jamur merang)
Reproduksi jamur Basidiomycota umumnya berlangsung secara seksual dengan cara kojungsi untuk membentuk basidiospora. Reproduksi secara aseksual sangat jarang terjadi. Jika ada, umumnya dengan cara membentuk konidia. Proses pembentukan basisidiospora adalah sebagai berikut. Basidiospora merupakan spora yang haploid. Spora ini tumbuh membentuk hifa-hifa yang bersekat. Tiap sekat berinti satu. Hifa ini ada yang bersifat satu “jantan”(+) dan “betina” (-). Jika ujung dua hifa yang bebeda bertemu,akan terjadi percanpuran percampuran plasma sel (plasmogami). Inti sel dari hifa (+) akan diberikan kesel hifa (-) sehingga terbentuk sel hifa dengan dua inti (hifa dikariotik). Sel hifa dengan dua inti ini akan berkembang membentuk miselium yang dikariotik juga. Miselium yang berinti dua ini secara khas tubuh menjadi buah (basidiokarp) yang bentuknya seperti payung, atau bentuk lainnya. Basidiokarp menghasilkan basidium yang terdapat pada lapisan yang disebut himenium. Didalam mimenium terjadi kariogami, yaitu persatuan dua inti menjadi satu. Inti ini,kemudian mengalami pembelahan meiosis unutk membentuk empat spora haploid yang disebut basidiospora. Jadi, basidiospora ini bersifat haploid dan terdapat di ujung basidium. Didalam setiap basidium terdapat empat basidiospora.








Gbr 2.13 Siklus hidup Basidiomycota
Adapun ciri-ciri umum dari jamur ini antara lain:
a.       Ciri khasnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai
badan penghasil spora.
b.       Kebanyakan anggota spesies berukuran makroskopik. Contoh spesies:
-       Auricularia polytricha : jamur kuping, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan.
-       Exobasidium vexans : parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar daun teh atau blister blight.
-       Amanita muscaria dan Amanita phalloides:  jamur beracun, habitat di daerah subtropics.
-       Ustilago maydis : jamur api, parasit pada jagung.
-       Puccinia graminis : jamur karat, parasit pada gandum
6.      Deuteromycotina
Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif. Contoh : Jamur Oncom sebelum diketahui pembiakan generatifnya dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui pembiakan generatifnya yang berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila dimasukkan ke dalam Ascomycotina.
Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur dari golongan ini, misalnya:  Epidermophyton fluocosum penyebab penyakit kaki atlit, Microsporum sp. Dan Trichophyton sp. penyebab penyakit kurap.

   Gbr 2.13 Penyakit kurap disebabkan infeksi Trichophyton sp.
Ada sekitar 25.000 spesies jamur yang dimasukkan dalam divisi Deuteromycota. Jamur Deuteromycota sering disebut juga fungi imperfecti Karena belum diketahui reproduksi seksualnya sehingga reproduksi jamur ini dilakukan secara aseksual dengan membentuk konidia seperti pada jamur Ascomycota.
Jika anggota jamur Deuteromycota sudah ditemukan secara reproduksi seksualnya, ia dimasukkan kedalam divisi yang berbeda. Sebagai contoh adalah jamur oncom (monilia sitophila). Dahulu, jamur tersebut termasuk dalam divisi Deuteromycota.Namun setelah diketahui bahwa jamur ini dapat membentuk askospora, sekarang  jamur tersebut termasuk divisi Ascomycota, dengan nama Neurospora crassa. Contoh lainnya adalah Aspergillus dan penicillium. Beberapa anggota aspergillus dan penicillium ada yang termasuk divisi Deuteromycota, sementara anggota lainnya termasuk divisi Ascomycota. Ciri lain dari Deuteromycota adalah hifanya bersekat. Sebagian besar anggota Deuteromycota bersifat merugikan karena merupakan perasit yang dapat menimbulkan penyakit baik pada manusia, hewan, ataupun  tumbuhan. Contoh anggota Deuteromycota yang merugikan, antara lain Chladosporium penyebab penyakit kulit, Trichophyton dan Epudermophyton penyebab penyakit kulit dan kuku, serta Microsporium penyebab penyakit rambut dan kuku.






Gbr 2.14 Struktur Trichophyton sp.
Mikorhiza
Mikorhiza adalah simbiosis antara jamur dengan tumbuhan tingkat tinggi, jamur yang dari Divisio Zygomycotina, Ascomycotina dan Basidiomycotina.
Lichenes / Likenes
Likenes adalah simbiosis antara ganggang dengan jamur, ganggangnya berasal dari ganggang hijau atau ganggang biru, jamurnya berasal dari Ascomycotina atau Basidiomycotina. Likenes tergolong tumbuhan pionir/vegetasi perintis karena mampu hidup di tempat-tempat yang ekstrim.
Contoh :
·         Usnea dasypoga
·         Parmelia acetabularis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar